Merapi

Erupsi 2010

Interaksi dan Erupsi

Merapi takkan ingkar janji

Lukisan Alam

Keindahan dan Keseganan Piroklastik

Kekuwasaan

Ketegasan dan Kekuatan Piroklastik

Komplek Tengger

Keindahan dan Imajinasi

Kamis, 11 Juni 2015

KONSEP BENCANA

Bencana merupakan pristiwa atau rangkaian pristiwa yang bersifat mengancam dan mengganggu kehidupan juga penghidupan masyarakat yang disebabkan baik oleh faktor alam dan/atau faktor non alam maupn faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerusakan harta bendan dan dampak psikologis (pasal 1, ayat 1, UU No. 24/2007). Dalam konsep kebencanaan terdapat beberapa komponen di dalamnya yaitu ancaman, kapasitas, kerentanan dan risiko, yang berhubungan satu dengan yang lain.
                Ancaman dapat diartikan sebagai suatu kejadian atau peristiwa yang bisa (berpotensi) menimbulkan bencana dengan berbagai macam jenis dan karekternya. Ancaman Geologi misalnya gempa bumi, tsunami, longsor dan gerakan tanah yang  disebebkan oleh faktor – faktor geologi. Ancaman Hidro-Meteorologi misalnya banjir, topan, banjir bandang dan juga kekeringan. Ancaman Teknologi misalnya kecelakaan transportasi, industri yang disebabkan oleh kekegagalan teknologi. Ancaman Lingkungan misalnya kebakaran, kebakaran hutan, penggundulan hutan, pertambangan yang berkaibat rusaknya lingkungan dan ekosistem di dalamnya. Ancaman Sosial misalnya terjadinya konflik, teror, Huru – hara dan juga terjadinya perang. Masing – masing dari ancaman tersebut memiliki karakter yang berbeda yang dapat dilihat dari seumber/penyebab terjadinya ancaman dengan faktor – faktor yang menentukan besar kecilnya kekuatan, besarnya kecepatan kehadiran juga perginya suwatu ancaman yang memiliki dampak serta  pola perulangan yang terjadi dengan frekwensi tertentu, durasi lama waktu kejadian, luwasan cakupan ancaman dan sebarannya juga posisi kedudukan unsur berisiko terhadap sumber ancaman.

Minggu, 18 Januari 2015

SITUS LIYANGAN

  Candi Liyangan merupakan situs purbakala yang terletak di desa Purbosari, kecamatan Ngadirejo, kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Berdasarkan analisa bangunan dan artefak, situs ini merupakan sebuah kompleks pemukiman, pertanian dan pusat ritual keagamaan (Balai Arkeologi Yogyakarta, 2011).  Situs ini diperkirakan dibangun pada abad ke-9 Masehi oleh kerajaan Mataram Kuno. Candi Liyangan terletak di kaki gunung Sindoro dan berjarak kurang lebih 7,5 km dari puncak gunung tersebut.
  Jenis endapan yang ditemukan adalah endapan lahar dengan fragmen berupa andesit dan basal, serta endapan pirolastik aliran. Kedua jenis endapan ini mengindikasikan karakteristik bahaya erupsi gunung Sindoro berupa aliran lahar dan awan panas. Berdasarkan observasi kompleks candi, disimpulkan bahwa masyarakat yang menempati situs Liyangan melakukan adaptasi terhadap bahaya lahar dan awan panas dengan membangun dinding penahan. Selain itu, dibangun juga jalur limpahan yang berfungsi untuk menyalurkan aliran air dan lahar dari arah gunung Sindoro. 
  Banyak ditemukan jejak - jejak piroklastik aliran seperti adanya arang kayu. Di beberapa tempat ditemukan endapan lempung hitam dan lapisan gambut sebagai identifikasi adanya ekosistem daerah rawa pada masa lampau.

Gambar yang menunjukkan jejak endapan laharik yang mengenai bangunan candi

Kenampakan arang kayu pada endapan piroklastik aliran

Kenampakan endapan lempung hitam

Kenampakan endapan gambut

Point of interest pada lokasi pengamatan

Point of interest pada singkapan

Profil litologi terukur 1, terdapat 4 fase pengendapan dilihat dari jejak soil yang ada dengan litologi sama, dan tekstur yang berbeda di setiap lapisannya.

Profil litologi terukur 2, terdapat 3 fase pengendapan dilihat dari jejak soil dan batas top perlapisan yang ada dengan litologi endapan laharik dan piroklastik aliran, memiliki ciri - ciri tertentu dan tekstur yang berbeda di setiap lapisannya.

Profil litologi terukur 3, terdapat 2 fase pengendapan dilihat dari jejak soil dan batas top perlapisan berupa endapan gambut dengan litologi endapan laharik dan piroklastik aliran, memiliki ciri - ciri tertentu dan tekstur yang berbeda di setiap lapisannya.

Kesebandingan litologi terukur, situs liyangan tertimbun piroklastik aliran yang berangsur bergantian dengan laharik dari aktivitas erupsi Gunung Sindoro.