Minggu, 06 April 2014

GUNUNG TAMBORA

Gunung Tambora biasa juga disebut Tamboro memiliki kawah Doro Api Toi (dalam kaldera) dan Kaldera bernama Tambora terletak pada poisisi 08o 15’ 00” LS dan 118o 00’ 00” BT. Secara administratif termasuk dalam wilayah Kabupaten Dompu dan Bima provinsi Nusa Tenggara Barat, terletak pada ketinggian 2.851 m dpl dengan kota terdekat adalah Dompu dan Bima. Gunung Tambora merupakan gunung api berjenis Strato dengan kaldera dengan pos pengamatan ada di Kampung Doropeti, Desa Pekat, Kecamatan Kempo, Kabupaten Dompu NTB pada posisi geografis : 08o 20’ 46” LS dan 117o 49’ 27” BT (57 m dpl).

Tidak banyak letusan gunungapi katastropik di abad ke-19 yang menghasilkan suatu kaldera berdiameter besar. Di dunia hanya tercatat tidak lebih dari 3 buah saja, yakni satu buah di G.Pinatubo (Jepang) dan 2 buah di Indonesia, yakni di G. Tambora (hasil letusan katastropik tahun 1815) dan di G. Krakatau (hasil letusan dahsyat pada tahun 1883). Yang cukup menarik untuk hasil letusan G. Tambora 1815, adalah tersebar luasnya aliran piroklastik berkomponen pumis hitam (black pumice) yang sangat jarang ditemukan pada produk letusan besar di gunungapi lain. Hal lain yang cukup menarik adalah terbentuknya kerucut-kerucut luar (flank eruption) yang tersebar di hampir seluruh lereng dan kaki G.Tambora, dengan produk letusan yang beragam dari mulai lava brondong/pop corn lava (produk letusan tipe stromboli), endapan preatik dan preatomagmatik yang banyak menyajikan struktur dalam (internal stucture) yang sangat baik untuk studi banding kevulkanologian.

Penduduk yang berpotensi terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan di KRB 3 berjumlah 113 orang yang terdiri dari 57 orang penduduk laki-laki dan 56 orang penduduk perempuan. Sedangkan penduduk yang berpotensi terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan di KRB 2 berjumlah 61 orang yang terdiri dari 31 orang penduduk laki-laki dan 30 orang penduduk perempuan. Sementara itu penduduk yang berpotensi terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan di KRB 1 berjumlah 270 orang yang terdiri dari 139 orang penduduk laki-laki dan 131 orang penduduk perempuan. Jumlah penduduk yang berpotensi terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan di semua KRB berjumlah 444 orang yang tersebar di 9 desa dan terdiri dari 227 orang penduduk laki-laki serta 217 orang penduduk perempuan.
            Bangunan yang berpotensi terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan pada KRB 3 meliputi 56 bangunan rumah, 1 fasilitas pendidikan dan 1 fasilitas kesehatan, sedangkan bangunan yang berpotensi terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan pada KRB 2 meliputi 36 bangunan rumah, 1 fasilitas pendidikan dan 1 fasilitas kesehatan. Pada KRB 1 bangunan yang berpotensi terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan meliputi 119 bangunan rumah, 2 fasilitas pendidikan dan 2 fasilitas kesehatan.
Lingkungan yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan pada KRB 3 meliputi areal seluas 3.500 ha yang terdiri dari: badan air (63 ha), tanah kosong (75 ha), semak belukar (3.376ha). Sedangkan lingkungan yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan pada KRB 2 meliputi areal seluas 1.965 ha yang terdiri dari: hutan (128 ha), tanah kosong (1.443 ha), tegalan (393 ha) dan semak belukar (1 ha). Sementara itu pada KRB 1, lingkungan yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan meliputi areal seluas 1.695 ha meliputi hutan (954 ha), sawah dan tegalan (109 ha), tanah kosong (163 ha), serta semak belukar (469 ha). Lingkungan terpapar akibat ancaman lontaran batu pijar dan hujan abu vulkanik pada KRB 3 meliputi areal seluas 7.475 ha yang terdiri dari: badan air (63 ha), hutan (103 ha), tanah kosong (3.727 ha), tegalan (204 ha) dan semak belukar (3.378 ha). Sedangkan pada KRB 2 lingkungan terpapar akibat ancaman lontaran batu pijar dan hujan abu vulkanik meliputi areal seluas 11.388 ha yang terdiri dari: hutan (3.029 ha), tanah kosong (6.208 ha), dan semak belukar (2.151 ha).

0 komentar:

Posting Komentar