Minggu, 06 April 2014

GUNUNG SANGEANG API

Gunung Sangeang Api atau disebut juga Gunung Dekat Bima memiliki kawah utama: Kawah Solo (Doro Undo), kawah Oi atau kawah Berano (Doro Api atau Karubu) dan Doro Mantoi sera kawah tambahan: Parasit Dewa Mboko pada pelana, Doro Ego (Kusumadinata, 1967) anak Dewa Toi di lereng selatan Doro Mantoi. Gunung Sangeang Api secara geografis terletak pada 08o 11’ LS dan 119o 03,5’ BT dan secara administrasi terletak di Kecamatan Wera Timur, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Gunung Sangeang Api termasuk tipe Strato kembar yang mempunyai dua puncak masing-masing Doro Api terletak pada ketinggian 1.949 dpl dan Doro Mantoi terletak pada ketinggian 1.795 m dpl. Kota terdekat dengan gunung Sangeang Api adalah Wera Timur dengan pos pengamatan di Desa Sangeang Tawali, Kec. Wera Timur, Kab. Bima, 84153 NTB, terletak pada posisi geografi : 08o 17’ 52,02” LS dan 118o 56’ 08,04” BT pada ketinggian 70 m dpl.

Penduduk yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan pada KRB 3 berjumlah 91 orang yang terdiri dari 44 orang laki-laki dan 47 orang penduduk perempuan. Pada KRB 2 penduduk yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan berjumlah 134 orang yang terdiri dari 65 orang penduduk laki-laki dan 69 penduduk perempuan. Sementara itu pada KRB 1 penduduk yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan berjumlah 66 orang yang terdiri dari 32 orang penduduk laki-laki dan 34 orang penduduk perempuan. Jumlah keseluruhan penduduk yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan diseluruh KRB adalah 291 orang yang tersebar di 3 desa, terdiri dari 141 orang penduduk laki-laki dan 150 orang penduduk perempuan.
Bangunan yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan pada KRB 3 meliputi 18 bangunan rumah, 1 fasilitas pendidikan dan 1 fasilitas kesehatan. Pada KRB 2 bangunan yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan meliputi 26 bangunan rumah, 1 fasilitas pendidikan dan 1 fasilitas kesehatan. Sementara itu bangunan yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan pada KRB 1 meliputi 12 bangunan rumah, 1 fasilitas pendidikan dan 1 fasilitas kesehatan.
Lingkungan yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan pada KRB 3 meliputi areal seluas 358 ha yang terdiri dari: semak belukar (557 ha), tegalan (148 ha). Sedangkan lingkungan yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan pada KRB 2 meliputi areal seluas 525 ha yang terdiri dari : hutan (177 ha), semak belukar (156 ha) dan tegalan (192 ha). Sementara itu pada KRB 1, lingkungan yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan meliputi areal seluas 260 ha meliputi hutan (168 ha), serta semak belukar (9 ha) dan tegalan (83 ha).
Lingkungan terpapar akibat ancaman lontaran batu pijar dan hujan abu vulkanik pada KRB 3 meliputi areal seluas 686 ha yang terdiri dari: hutan (107 ha), semak belukar (358 ha) dan tegalan (221 ha). Sedangkan pada KRB 2 lingkungan terpapar akibat ancaman lontaran batu pijar dan hujan abu vulkanik meliputi areal seluas 6.895 ha yang terdiri dari: hutan (4.321 ha), semak belukar (206 ha) dan tegalan (2.368 ha). Sementara itu pada KRB 1, lingkungan terpapar akibat ancaman lontaran batu pijar dan hujan abu vulkanik meliputi areal seluas 7.150 ha meliputi: hutan (3.747 ha), pemukiman dan bangunan (59 ha), semak belukar (33 ha) dan tegalan (3.311).

0 komentar:

Posting Komentar