Minggu, 06 April 2014

GUNUNG ROKATENDA

Gunung Rokatenda merupakan gunung api bertipe Strato dan memiliki dua buah kawah serta tiga buah lava di puncaknya. Ketiga kubah lava tersebut terbentuk tahun 1928, 1964 dan 1981, terletak pada pola garis lurus dari utara – selatan. Secara geografis Gunung Rokatenda terletak pada posisi 8o 19’ LS dan 121o 42’ 30” BT dan secara administratif berada di wilayah Pulau Palue, sebelah utara Flores Tengah, Kecamatan Awa di Pulau Palue bagian utara, dan Kabupaten Sikka – NTT. Puncak Gunung Rokatenda berada pada ketinggian 875 m dpl dan desa terdekatnya adalah Desa Awa yang merupakan pusat Kecamatan di Pulau Palue, sedangkan desa terdekat di Pulau Flores adalah Roka. Pos pengamatan gunung berada di Ropa, Desa Keliwumbu, Kecamatan Maurole, Kabupaten Ende (08o 30’ 08,34” LS dan 121o 44,10” BT, 5 m dpl).

Penduduk yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan pada KRB 3 berjumlah 675 orang yang terdiri dari 280 orang penduduk laki-laki dan 395 penduduk perempuan. Pada KRB 2, penduduk yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan berjumlah 1.003 orang yang terdiri dari 426 orang penduduk laki-laki dan 577 orang penduduk perempuan. Sementara itu pada KRB 1, penduduk yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan berjumlah 256 orang, yang terdiri dari 110 orang laki-laki dan 146 orang perempuan.Jumlah keseluruhan penduduk yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan di seluruh KRB berjumlah 1.934 orang yang tersebar di 18 desa, terdiri dari 816 orang penduduk laki-laki dan 1.118 orang penduduk perempuan.
Bangunan yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan pada KRB 3 meliputi 178 bangunan rumah, 2 fasilitas pendidikan dan 1 fasilitas kesehatan. Pada KRB 2, bangunan yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan meliputi 249 bangunan rumah, 2 fasilitas pendidikan dan 1 fasilitas kesehatan. Sementara itu pada KRB 1 bangunan yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan meliputi 54 bangunan rumah, 1 fasilitas pendidikan dan 1 fasilitas kesehatan.
Lingkungan yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan pada KRB 3 meliputi areal seluas 282 ha, yang terdiri dari 56 ha hutan, 4 ha perkebunan, 5 ha sawah dan ladang, 95 ha semak belukar, dan 122 ha tegalan. Pada KRB 2, lingkungan yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan meliputi areal seluas 444 ha, yang terdiri dari 55 ha hutan, 44 ha perkebunan, 7 ha sawah dan ladang, 54 ha semak belukar, dan 284 ha tegalan. Sementara itu pada KRB 1, lingkungan yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan meliputi areal seluas 78 ha, yang terdiri dari 1 ha pemukiman dan bangunan, 6 ha perkebunan, 10 ha semak belukar, dan 61 ha tegalan.
Lingkungan yang berpotensi terpapar akibat ancaman lontaran batu pijar dan hujan abu vulkanik pada KRB 3 meliputi areal seluas 1.204 ha, yang terdiri dari 155 ha hutan, 1 ha pemukiman dan bangunan, 132 ha perkebunan, 29 ha sawah dan ladang, 218 ha semak belukar, dan 671 ha tegalan. Pada KRB 2, lingkungan yang terpapar akibat ancaman lontaran batu pijar dan hujan abu vulkanik meliputi areal seluas 2.609 ha, yang terdiri dari 76 ha pemukiman dan bangunan, 478 ha perkebunan, 294 ha sawah dan ladang, 236 ha semak belukar, dan 1.525 ha tegalan. Sementara itu lingkungan yang berpotensi terpapar di KRB 1 tidak ada.

0 komentar:

Posting Komentar