Kamis, 10 April 2014

GUNUNG LOKON

Gunung Lokon yang terletak di Tomohon, Provinsi Sulawesi Utara mempunyai dua puncak yaitu puncak Lokon dengan ketinggian sekitar 1.579 m dpl dengan koordinat 01o 21,5’ LU dan 124o 47,5’ BT; serta puncak Empung yang mempunyai ketinggian sekitar 1340 m dpl dengan koordinat 01o 22’ LU dan 124o 47,5’ BT. Gunung Lokon merupakan gunungapi tipe strato dan dipantau melalui pos pengamatan yang terletak pada koordinat 01o 38,76” LU dan 124o 50’ 21,90” BT dengan ketinggian sekitar 826 m dpl yang dapat dicapai melalui Kota Tomohon, Tondano dan Manado, dan secara administratif termasuk dalam wilayah Desa Kakaskasen, Tomohon, Sulawesi Utara.
Apabila Gunung Lokon meletus, tidak ditemukan penduduk terpapar pada wilayah KRB 3, baik akibat ancaman aliran awan panas, lava dan atau lahar maupun akibat batu pijar dan abu vulkanik. Terkait dengan aliran awan panas, lava dan atau lahar untuk wilayah KRB 2, potensi jumlah penduduk laki-laki terpapar adalah 3.347 jiwa dan penduduk perempuan sekitar 3.202 jiwa, sehingga total 6.549 jiwa. Sedang untuk wilayah terpapar KRB 1 potensi penduduk terpapar laki-laki berjumlah 5.569 jiwa dan perempuan 5.472 jiwa, dengan total 11.041 jiwa dari 32. Untuk ancaman batu pijar dan abu vulkanik apabila Gunung Lokon meletus, potensi penduduk terpapar terdapat pada wilayah KRB 1 dengan jumlah sekitar 41.893 jiwa.

Potensi bangunan yang terpapar akibat ancaman aliran awan panas, lava dan atau lahar pada wilayah KRB 2 berupa rumah sejumlah 1.213 unit, fasilitas pendidikan sejumlah 10 unit dan fasilitas kesehatan sejumlah 3 unit. Untuk wilayah KRB 1, ancaman akibat aliran awan panas, lava dan atau lahar berpotensi merusak 2.134 rumah, 19 fasilitas pendidikan dan 8 fasilitas kesehatan. Untuk ancaman batu pijar dan abu vulkanik pada KRB 1, bangunan terpapar terdiri dari 3.398 unit rumah, 20 unit fasilitas pendidikan dan 7 unit fasilitas kesehatan.
Bila terjadi letusan besar, maka bahaya utama letusan G. Lokon atau bahaya primer (bahaya langsung akibat letusan) adalah luncuran awan panas, lontaran piroklastik (bom vulkanik, lapili, pasir dan abu) dan mungkin aliran lava. Sedangkan bahaya sekunder (bahaya tidak langsung dari letusan) adalah lahar hujan yang terjadi setelah letusan apabila turun hujan lebat di sekitar puncak. G. Lokon dalam sejarah letusannya menunjukkan peningkatan frekuensi letusan atau selang waktu terjadinya letusan. Sebelum tahun 1800 selang waktu letusan sangat lama (400 tahun), tetapi sesudah 1949 menunjukkan peningkatan frekuensi yang sangat tajam, selang waktu letusan bervariasi antara 1 - 4 tahun, rata-rata 3 tahun. Letusan besar terakhir terjadi tahun 1991, sedangkan letusan - letusan yang terjadi pada tahun 2000 an ini relatif kecil.

0 komentar:

Posting Komentar