Minggu, 06 April 2014

GUNUNG LEWOTOBI

Gunung Lewotobi Laki Laki juga disebut Lobetobi atau Lewotobi, merupakan gunung api tipe Strato yang secara geografis terletak pada posisi 8o 32’ LS dan 122o 46,30’ BT dan secara administratif berada di wilayah Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Puncak gunung berada pada ketinggian 1.584 m dpl dengan kota terdekat adalah Larantuka dengan dan pos pengamatan gunung ada di Desa Nawakote Boru, Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur pada posisi Geografi : 08o 33’ 03,93” LS, 122o 43’ 37,50” BT, ketinggian 370 m dpl.

Penduduk yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan pada KRB 3 berjumlah 47 orang yang terdiri dari 22 orang penduduk laki-laki dan 25 orang penduduk perempuan. Pada KRB 2, penduduk yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan berjumlah 561 orang, yang terdiri dari 282 orang penduduk laki-laki dan 279 orang penduduk perempuan. Sementara itu penduduk yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan pada KRB 1 berjumlah 40 orang yang terdiri dari 19 orang laki-laki dan 21 orang perempuan. Jumlah keseluruhan penduduk yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan di seluruh KRB berjumlah 648 orang yang tersebar di 8 desa, terdiri dari 323 orang penduduk laki-laki dan 325 orang penduduk perempuan.
            Bangunan yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan pada KRB 3 meliputi 20 bangunan rumah, 2 fasilitas pendidikan dan 2 fasilitas kesehatan. Pada KRB 2, bangunan yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan meliputi 45 bangunan rumah, sedangkan pada KRB 1 bangunan yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan meliputi 9 bangunan rumah, 2 fasilitas pendidikan dan 2 fasilitas kesehatan.
Lingkungan yang berpotensi terpapar terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan pada KRB 3 meliputi areal seluas 455 ha, yang terdiri dari 1 ha badan air, 91 ha hutan, 241 ha semak belukar, dan 122 ha tegalan. Pada KRB 2, lingkungan yang berpotensi terpapar terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan meliputi areal seluas 1.582 ha, yang terdiri dari 869 ha hutan, 20 ha perkebunan, 3 ha sawah dan ladang, 195 ha semak belukar, dan 495 ha tegalan. Sementara itu pada KRB 1, lingkungan yang berpotensi terpapar terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan meliputi areal seluas 226 ha, yang terdiri dari 20 ha hutan, 2 ha pemukiman dan bangunan, 14 ha perkebunan, 9 ha sawah dan ladang, dan 181 ha tegalan.
Lingkungan yang berpotensi terpapar akibat ancaman lontaran batu pijar dan hujan abu vulkanik pada KRB 3 meliputi areal seluas 1.956 ha yang terdiri dari 1 ha badan air, 881 ha hutan, 23 ha sawah dan ladang, 439 ha semak belukar, dan 612 ha tegalan. Pada KRB 2, lingkungan yang berpotensi terpapar akibat ancaman lontaran batu pijar dan hujan abu vulkanik meliputi areal seluas 5.562 ha, yang terdiri dari 2.434 ha hutan, 313 ha perkebunan, 194 ha sawah dan ladang, 8 ha semak belukar, 2.613 ha tegalan. Sementara itu pada KRB 1, lingkungan yang berpotensi terpapar akibat ancaman lontaran batu pijar dan hujan abu vulkanik meliputi areal seluas 6.795 ha, yang terdiri dari 124 ha hutan, 85 ha pemukiman dan bangunan, 1.350 ha perkebunan, 1.380 ha sawah dan ladang, 79 ha semak belukar, dan 3.777 ha tegalan.

0 komentar:

Posting Komentar