Kamis, 10 April 2014

GUNUNG LEREBOLENG

Gunung Lereboleng memiliki banyak nama lain antara lain Lewono atau Leweno atau Lewero atau Leweroh atau Ili Burak merupakan gunung bertipe Strato, secara geografis terletak pada posisi 8o 21’ 25” LS dan 122o 50’ 50” BT dan secara administratif berada di wilayah Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Puncak gunung berada pada ketinggian 1.117 m dpl dengan kota terdekat adalah Kota Larantuka dan pos pengamatan gunung berada di Desa Lewoingu Leraboleng, Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (08o 23’ 42” LS, 122o 49’ 57,70” BT, ketinggian 382 m dpl.

Penduduk yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan pada KRB 3 berjumlah 491 orang yang terdiri dari 246 oarng laki-laki dan 245 orang perempuan. Pada KRB 2, penduduk yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan berjumlah 676 orang, yang terdiri dari 337 orang laki-laki dan 339 orang perempuan. Sementara itu pada KRB 1 penduduk yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan berjumlah 191 orang, yang terdiri dari 95 orang laki-laki dan 96 orang perempuan. Jumlah keseluruhan penduduk yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan di seluruh KRB adalah 1.358 orang yang tersebar di 12 desa. Terdiri dari 678 orang laki-laki dan 680 orang perempuan.
Bangunan yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan pada KRB 3 meliputi 118 bangunan rumah, 2 fasilitas pendidikan dan 1 fasilitas kesehatan. Sedangkan pada KRB 2 bangunan yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan meliputi 208 bangunan rumah, 3 fasilitas pendidikan dan 2 fasilitas kesehatan. Sementara itu pada KRB 1, bangunan yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan meliputi 39 bangunan rumah, 2 fasilitas pendidikan dan 2 fasilitas kesehatan.
Lingkungan yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan pada KRB 3 meliputi areal seluas 789 ha, yang terdiri dari 52 ha hutan, 39 ha perkebunan, 180 ha sawah dan ladang, 19 ha semak belukar, dan 499 ha tegalan. Pada KRB 2, lingkungan yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan meliputi areal seluas 1.383 ha, yang terdiri dari 11 ha hutan, 24 ha pemukiman dan bangunan, 385 ha perkebunan, 207 ha sawah dan ladang, 101 ha semak belukar, dan 655 ha tegalan. Sementara itu pada KRB 1, lingkungan yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan meliputi areal seluas 178 ha, yang terdiri dari 1 ha pemukiman dan bangunan, 17 ha perkebunan, 28 ha sawah dan ladang, 8 ha semak belukar, dan 124 ha tegalan. 
Sedangkan lingkungan yang berpotensi terpapar akibat ancaman lontaran batu pijar dan hujan abu vulkanik pada KRB 3 meliputi areal seluas 1.882 ha, yang terdiri dari 163 ha hutan, 2 ha pemukiman dan bangunan, 199 ha perkebunan, 291 ha sawah dan ladang, 101 ha semak belukar, dan 1.126 ha tegalan. Pada KRB 2, lingkungan yang berpotensi terpapar akibat ancaman lontaran batu pijar dan hujan abu vulkanik meliputi areal seluas 2.924 ha, yang terdiri dari 398 ha hutan, 30 ha pemukiman dan bangunan, 443 ha perkebunan, 252 ha sawah dan ladang, 139 ha semak belukar, dan 1.662 ha tegalan. Sementara itu pada KRB 1 , lingkungan yang berpotensi terpapar akibat ancaman lontaran batu pijar dan hujan abu vulkanik meliputi areal seluas 6.021 ha, yang terdiri dari 267 ha hutan, 69 ha pemukiman dan bangunan, 611 ha perkebunan, 963 ha sawah dan ladang, 233 ha semak belukar, dan 3.878 ha tegalan.

0 komentar:

Posting Komentar