Minggu, 06 April 2014

GUNUNG KALIMUTU

Gunung Kelimutu atau disebut juga Keli Mutu atau Kawah Tiga Warna atau Geli Mutu merupakan gunung api bertipe Strato yang memiliki 2 kawah yaitu Kawah Tiwu Ata Polo (± 1381,5 m) terletak di sebelah timur laut kawah kedua yaitu Tiwu Nua Muri (± 1394,4 m), kedua kawah dipisahkan oleh dinding kawah yang tipis (lebar 2,0 m), sedangkan di arah barat terletak kawah Tiwu Ata Mbupu (± 1354,2 m). Secara geografis Gunung Kelimutu terletak pada posisi 08o 45’ 30” LS dan 121o 50’ 00” BT dan secara administratif berada di wilayah Kabupaten Ende Flores Nusa Tenggara Timur. Puncaknya berada pada ketinggian 1.384,5 m dpl, sedangkan kota terdekatnya adalah Ende dengan pos pengamatan berada di Kampung Kolorongo, Desa Koa Nora, Kabupaten Ende (08o 44’ 38,52” LS dan 121o 50’ 12,12” BT, ketinggian ± 851 m dml).

Penduduk yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan pada KRB 3 berjumlah 378 orang yang terdiri dari 162 orang penduduk laki-laki dan 216 orang penduduk perempuan. Pada KRB 2 penduduk yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan berjumlah 1.167 orang yang terdiri dari 644 orang penduduk laki-laki dan 523 orang penduduk perempuan. Sementara itu penduduk yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan pada KRB 1 berjumlah 545 orang yang terdiri dari 247 orang laki-laki dan 298 orang perempuan. Jumlah keseluruhan penduduk yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan diseluruh KRB adalah 2.090 orang yang tersebar di 31 desa, terdiri dari 932 orang penduduk laki-laki dan 1.158 penduduk perempuan.
            Bangunan yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan pada KRB 3 meliputi 81 bangunan rumah, 3 fasilitas pendidikan dan 1 fasilitas kesehatan. Pada KRB 2 bangunan yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan meliputi 308 bangunan rumah, 5 fasilitas pendidikan dan 2 fasilitas kesehatan. Sementara itu pada KRB 1 bangunan yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan meliputi 128 bangunan rumah, 4 fasilitas pendidikan dan 3 fasilitas kesehatan.
            Lingkungan yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan pada KRB 3 meliputi areal seluas 318 ha yang terdiri dari 24 ha badan air, 124 ha hutan, 77 ha semak belukar, dan 93 ha tegalan. Pada KRB 2 lingkungan yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan meliputi areal seluas 1.124 ha yang terdiri dari 459 ha hutan, 15 ha perkebunan, 104 ha sawah dan ladang, 103 ha semak belukar, dan 443 ha tegalan. Sementara itu pada KRB 1 lingkungan yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan meliputi areal seluas 265 ha yang terdiri dari 35 ha badan air, 3 ha perkebunan, 120 ha sawah dan ladang, dan 107 ha tegalan.
Lingkungan yang berpotensi terpapar akibat ancaman lontaran batu pijar dan hujan abu vulkanik pada KRB 3 meliputi areal seluas 1.205 ha yang terdiri dari 24 ha badan air, 548 ha hutan, 10 ha perkebunan, 17 ha sawah dan ladang, 162 ha semak belukar, dan 444 ha tegalan. Pada KRB 2, lingkungan yang berpotensi terpapar akibat ancaman lontaran batu pijar dan hujan abu vulkanik meliputi areal seluas 6.322 ha yang terdiri dari 6 ha badan air, 1.245 ha hutan, 50 ha pemukiman dan bangunan, 203 ha perkebunan, 2.340 ha sawah dan ladang, 570 ha semak belukar, dan 1.908 ha tegalan. Sementara itu pada KRB 1, lingkungan yang berpotensi terpapar akibat ancaman lontaran batu pijar dan hujan abu vulkanik meliputi areal seluas 11.743 ha yang meliputi 23 ha badan air, 826 ha hutan, 212 ha pemukiman dan bangunan, 874 ha perkebunan, 4.181 ha sawah dan ladang, 1.309 ha semak belukar, dan 4.318 ha tegalan.

0 komentar:

Posting Komentar