Minggu, 06 April 2014

GUNUNG INIERIE

Gunung Inerie atau disebut juga Ineri atau Rokkapiek merupakan gunung api tipe Strato dengan bentuk kerucut sempurna secara geografis terletak pada posisi 08o 53’ LS dan 120o 57’ BT dan secara administratif berada di Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Puncak Gunung Inerie terletak pada ketinggian 2.230 m dpl dengan kota terdekat adalah Bajawa dan pos pengamatannya terletak di Jl. Raya Bajawa – Ende, Desa Bomari, Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur pada posisi geografis : 08o 48’ 26,40” LS dan 120o 58’ 37,50” BT (1243 m dpl).

Penduduk yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan pada KRB 3 berjumlah 938 orang, yang terdiri dari 431 orang laki-laki dan 507 orang perempuan. Pada KRB 2, penduduk yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan berjumlah 3.066 orang, yang terdiri dari 1.417 orang laki-laki dan 1.649 orang perempuan. Sedangkan pada KRB 1, penduduk yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan berjumlah 5.857 orang, yang terdiri dari 2.741 orang laki-laki dan 3.116 orang perempuan. Jumlah penduduk yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan pada seluruh KRB adalah 9.861 orang yang tersebar di 16 desa, terdiri dari 4.589 orang laki-laki dan 5.272 orang perempuan.
Bangunan yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan pada KRB 3 meliputi 214 bangunan rumah, 4 fasilitas pendidikan dan 3 fasilitas kesehatan. Pada KRB 2, bangunan yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan meliputi 715 bangunan rumah, 7 fasilitas pendidikan dan 5 fasilitas kesehatan. Sedangkan pada KRB 1, bangunan yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan meliputi 1.468 bangunan rumah, 13 fasilitas pendidikan dan 5 fasilitas kesehatan.
Lingkungan yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan pada KRB 3 meliputi areal seluas 1.179 ha, yang terdiri dari 405 ha hutan, 515 ha semak belukar, dan 259 ha tegalan. Pada KRB 2, lingkungan yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan meliputi areal seluas 3.631 ha, yang terdiri dari 394 ha hutan, 12 ha pemukiman dan bangunan, 307 ha perkebunan, 324 ha sawah dan ladang, 1.103 ha semak belukar, dan 1.491 ha tegalan. Sedangkan pada KRB 1, lingkungan yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan meliputi areal seluas 6.040 ha, yang terdiri dari 359 ha hutan, 74 ha pemukiman dan bangunan, 1.655 ha perkebunan, 983 ha sawah dan ladang, 778 ha semak belukar, dan 2.191 ha tegalan.
Sementara itu lingkungan yang berpotensi terpapar akibat ancaman lontaran batu pijar dan hujan abu vulkanik pada KRB 3 meliputi areal seluas 1.536 ha, yang terdiri dari 55 ha hutan, 19 ha pemukiman dan bangunan, 123 ha perkebunan, 122 ha sawah dan ladang, 759 ha semak belukar, dan 458 ha tegalan. Pada KRB 2, lingkungan yang berpotensi terpapar akibat ancaman lontaran batu pijar dan hujan abu vulkanik meliputi areal seluas 1.764 ha yang terdiri dari 471 ha hutan, 23 ha perkebunan, 96 ha sawah dan ladang, 542 ha semak belukar, dan 632 ha tegalan. Sedangkan pada KRB1, lingkungan yang berpotensi terpapar akibat ancaman lontaran batu pijar dan hujan abu vulkanik meliputi areal seluas 1.045 ha, yang terdiri dari 34 ha hutan, 5 ha pemukiman dan bangunan, 269 ha perkebunan, 338 ha sawah dan ladang, 57 ha semak belukar, dan 343 tegalan.

0 komentar:

Posting Komentar