Minggu, 06 April 2014

GUNUNG INIELIKA

Gunung Inielika atau Inelika merupakan gunung bertipe Strato dengan tiga kawah yaitu: Wolo Inelika, Wono Lego, Wolo Rumu secara geografis terletak pada posisi 8o 44’ 00,84” LS dan 120o 58’ 01,14” BT dan termasuk di wilayah Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Puncak Gunung Inielika terletak pada ketinggian 1.559 m dpl dengan kota terdekat adalah Bajawa dan pos pengamatannya ada di Ngelapadi, Desa Wololika, Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada – NTT pada posisi geografis : 08o 44’ 15,19” LS – 121o 00’ 40,69” BT (855 m dpl).

Penduduk yang berpotensi terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan pada KRB 3 berjumlah 163 orang yang terdiri dari 76 orang laki-laki dan 87 orang perempuan. Sedangkan pada KRB 2, penduduk yang berpotensi terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan berjumlah 727 orang yang terdiri dari 355 orang laki-laki dan 372 orang perempuan. Sementara itu pada KRB 1, penduduk yang berpotensi terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan berjumlah 2.250 orang yang terdiri dari 1.137 orang laki-laki dan 1.113 orang perempuan. Jumlah keseluruhan penduduk yang berpotensi terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan di seluruh KRB adalah 3.140 orang yang tersebar di 20 desa, terdiri dari 1.568 orang laki-laki dan 1.572 orang perempuan.
            Bangunan yang berpotensi terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan pada KRB 3 meliputi 27 bangunan rumah, 1 fasilitas pendidikan dan 1 fasilitas kesehatan. Sedangkan pada KRB 2, bangunan yang berpotensi terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan meliputi 150 bangunan rumah, 3 fasilitas pendidikan, dan 1 fasilitas kesehatan. Sementara itu pada KRB 1, bangunan yang berpotensi terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan meliputi 368 bangunan rumah, 6 fasilitas pendidikan dan 3 fasilitas kesehatan.
Lingkungan yang berpotensi terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan pada KRB 3 meliputi areal seluas 267 ha, yang terdiri dari 8 ha pemukiman dan bangunan, 58 ha semak belukar, dan 201 ha tegalan. Pada KRB 2, lingkungan yang berpotensi terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan meliputi areal seluas 769 ha yang terdiri dari 1 ha pemukiman dan bangunan, 94 ha sawah dan ladang, 138 ha semak belukar, dan 536 ha tegalan. Sementara itu pada KRB 1, lingkungan yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan meliputi areal seluas 274 ha yang terdiri dari 45 ha perkebunan, 105 ha sawah dan ladang, 16 ha semak belukar, dan 108 ha tegalan.
Selain itu terdapat lingkungan yang berpotensi terpapar akibat ancaman lontaran batu pijar dan hujan abu vulkanik pada KRB 3 yang meliputi areal seluas 301 ha yang terdiri dari 23 ha sawah dan ladang, 41 ha semak belukar, dan 237 ha tegalan. Pada KRB 2, lingkungan yang berpotensi terpapar akibat ancaman lontaran batu pijar dan hujan abu vulkanik meliputi areal seluas 899 ha yang terdiri dari 66 ha hutan, 54 ha perkebunan, 504 ha sawah dan ladang, 109 ha semak belukar, dan 366 ha tegalan. Sementara itu pada KRB 1, lingkungan yang berpotensi terpapar akibat ancaman lontaran batu pijar dan hujan abu vulkanik meliputi areal seluas 3.620 ha yang terdiri dari 261 ha hutan, 52 ha pemukiman dan bangunan, 428 ha perkebunan, 1.067 ha sawah dan ladang, 771 ha semak belukar, dan 1.041 ha tegalan.

0 komentar:

Posting Komentar