Minggu, 06 April 2014

GUNUNG EBULOBO

Gunung Ebulobo mempunyai banyak nama lain antara lain Amburombu atau Ambulombo atau Ebulobo atau Keo Peak merupakan gunung api bertipe Strato secara geografis terletak pada posisi 8o 48,5’ LS dan 121o 11’ BT dan secara administratif berada di wilayah Kabupaten Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur. Puncak Gunung Ebulobo berada pada ketinggian 2.123 m dpl dengan kota terdekat adalah Boa Wae dengan pos pengamatan ada di Desa Leguderu, Kecamatan Boa Wae, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur pada posisi geografis 08o 48’ 37,90” LS dan 121o 09’ 26,70” BT (966 m dpl).

Penduduk yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan pada KRB 3 dan pada KRB 2 tidak ada, sedangkan pada KRB 1 penduduk yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan berjumlah 12 orang yang terdiri dari 6 orang penduduk laki-laki dan 6 orang penduduk perempuan.
Jumlah bangunan yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan pada KRB 2 meliputi 806 bangunan rumah, 11 fasilitas pendidikan dan 4 fasilitas kesehatan. Sedangkan pada KRB 1 jumlah bangunan yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan meliputi 585 bangunan rumah, 5 fasilitas pendidikan dan 2 fasilitas kesehatan.
Lingkungan yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan pada KRB 3 meliputi areal seluas 397 ha yang terdiri dari: hutan (9 ha), perkebunan (75 ha), sawah dan ladang (93 ha), semak belukar (102 ha) dan tegalan (188 ha). Sedangkan lingkungan yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan pada KRB 2 meliputi areal seluas 3.762 ha yang terdiri dari: hutan (454 ha), pemukiman dan bangunan (54), perkebunan (515 ha), sawah dan ladang (1.864 ha), semak belukar (11 ha) dan tegalan (864 ha). Sementara itu pada KRB 1, lingkungan yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan meliputi areal seluas 1.366 ha yang terdiri dari badan air (68 ha), hutan (1 ha), pemukiman dan bangunan (12 ha), perkebunan (141 ha), sawah dan ladang (619 ha), semak belukar (96 ha) dan tegalan (429 ha).
Lingkungan yang berpotensi terpapar akibat ancaman lontaran batu pijar dan hujan abu vulkanik pada KRB 3 meliputi areal seluas 679 ha meliputi hutan (227 ha), sawah dan ladang (76 ha), semak belukar (107 ha), dan tegalan (269 ha). Sedangkan pada KRB 2 lingkungan terpapar akibat ancaman lontaran batu pijar dan hujan abu vulkanik meliputi areal seluas 6.848 ha yang terdiri dari: hutan (498 ha), pemukiman dan bangunan (99 ha), perkebunan (1.453 ha), sawah dan ladang (3.530 ha), semak belukar (10 ha), dan tegalan (1.258 ha). Sementara itu pada KRB 1, lingkungan terpapar akibat ancaman lontaran batu pijar dan hujan abu vulkanik meliputi areal seluas 11.721 ha yang terdiri dari badan air (2 ha), hutan (715 ha), pemukiman dan bangunan (164 ha), sawah dan ladang (5.920 ha), semak belukar (372 ha), dan tegalan (1.994 ha).

0 komentar:

Posting Komentar