Jumat, 04 April 2014

GUNUNG BATUR

Gunung Batur atau disebut juga sebagai Gunung Batoer (Bator) terletak pada posisi 08o 14’ 30” Lintang Selatan dan 115o 22’ 30” Bujur Timur (Atlas Trop. Ned., 1938, sheet 22). Secara administratif Gunung Batur masuk di wilayah administrasi Kabupaten Bangli, Provinsi Bali. Gunung Batur terletak pada ketinggian 1717 m dpl atau 686 m di atas muka Danau Batur (M.N.V. Padang, 1951) serta 1267 m dari Kota Bangli. Kota terdekat adalah Bangli pada jarak 23 km arah Selatan Gunung Batur. Gunung ini bertipe Strato di dalam kaldera dengan Pos Pengamatan terletak di Desa Panelokan, Kecamatan Kintamani Kabupaten Bangli – Posisi geografi 08o 17’ 16,2” LS 115o 22’ 43,2” BT. Ketinggian ± 1290 m di atas muka laut.

Penduduk yang berpotensi terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan pada KRB 3 berjumlah 5.470 orang yang terdiri dari 2.771 orang laki-laki dan 2.699 orang perempuan. Pada KRB 2, penduduk yang berpotensi terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan berjumlah 4.106 orang yang terdiri dari 2.032 orang laki-laki dan 2.074 orang perempuan. Sedangkan pada KRB 1 tidak ada penduduk yang berpotensi terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan. Jumlah seluruh penduduk yang berpotensi terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan pada seluruh KRB berjumlah 9.576 orang yang tersebar di 10 desa, terdiri dari 4.803 orang laki-laki dan 4.773 orang perempuan.
Bangunan yang berpotensi terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan pada KRB 3 meliputi 1.870 bangunan rumah, 6 fasilitas pendidikan, dan 1 fasilitas kesehatan. Pada KRB 2, bangunan yang berpotensi terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan meliputi 860 bangunan rumah, 4 fasilitas pendidikan dan 1 fasilitas kesehatan. Sedangkan pada KRB 1, tidak ada bangunan yang berpotensi terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan.
Lingkungan yang berpotensi terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan pada KRB 3 meliputi areal seluas 2.540 ha, yang terdiri dari 5 ha badan air, 40 ha pemukiman dan bangunan, 92 ha perkebunan, 273 ha sawah dan ladang, 1.624 ha tanah kosong, dan 506 ha tegalan. Pada KRB 2, lingkungan yang berpotensi terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan meliputi areal seluas 890 ha, yang terdiri dari 78 ha pemukiman dan bangunan, 1 ha perkebunan, 689 ha sawah dan ladang, 76 ha tanah kosong, dan 46 ha tegalan. Tidak ada lingkungan yang berpotensi terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan di KRB 1. Sementara itu, lingkungan yang berpotensi terpapar akibat ancaman lontaran batu pijar dan hujan abu vulkanik pada KRB 3 meliputi areal seluas 2.062 ha, yang terdiri dari 43 ha pemukiman dan bangunan, 93 ha perkebunan, 575 ha sawah dan ladang, 1.249 ha tanah kosong, dan 102 ha tegalan. Pada KRB 2 lingkungan yang berpotensi terpapar akibat ancaman lontaran batu pijar dan hujan abu vulkanik meliputi areal seluas 8.444 ha, yang terdiri dari 1.530 ha badan air, 285 ha hutan, 308 ha pemukiman dan bangunan, 2.081 ha perkebunan, 1.738 ha sawah dan ladang, 514 ha tanah kosong, dan 1.988 ha tegalan. Tidak ada lingkungan yang berpotensi terpapar pada KRB 1.

0 komentar:

Posting Komentar