Minggu, 13 April 2014

FASIES VULKANIK (Vessell dan Davies. 1981)

Sedimen vulkanik memperlihatkan perubahan karakter secara cepat sejalan dengan bertambahnya jarak dari sumbu magmatik. Ada empat fasies yang dapat dikenali, batas-batas antar fasies yang berdampingan tidak jelas dan satu fasies berubah secara berangsur menjadi fasies yang lain. Pembedaan fasies didasarkan pada: (1) litologi; (2) besar butir; (3) struktur sedimen dan tekstur; (4) genesis.

Fasies Inti Gunungapi
a. Pemerian
     Inti gunungapi (volcanic core) dicirikan oleh perselingan lava, debu jatuhan, dan koluvium. Individu-individu lapisan memiliki ketebalan yang sangat bervariasi, mulai dari beberapa centimeter hingga beberapa meter. Komposisi lava dan debu berkisar mulai dari andesit hingga basal olivin, tergantung pada letusan dan gunungapi namun letusan-letusan historis menghasilkan basal olivin alumina tinggi sebagai awan panas, debu, dan lava (jarang).
     Debu jatuhan terpilah buruk hingga terpilah baik serta memiliki besar butir yang beragam, mulai dari bongkah hingga pasir halus. Koluvium muncul sebagai lapisan-lapisan breksi yang memiliki ketebalan yang beragam dengan kesinambungan lateral yang rendah. Pemilahan sangat buruk dan endapan ini seringkali mengandung bongkah menyudut yang ukurannya juga sangat beragam.

b. Sedimentasi
Sedimentasi lava umumnya terbatas dalam lembah-lembah yang ada pada sayap gunungapi. Debu vulkanik, di lain pihak, merupakan produk umum dari letusan dan dapat menutupi wilayah yang luas dan relatif jauh dari kawah. Korelasi antar individu lapisan debu pada fasies ini sangat sukar untuk dilakukan karena ketebalan dan besar butir pada setiap lapisan dapat berubah dengan cepat. Demikian pula, individu lapisan koluvium tidak dapat dikorelasikan dari satu singkapan yang terisolasi kepada singkapan lain yang juga terisolasi. Breksi koluvium berasosiasi erat dengan lereng curam dan terbentuk sebagai produk erosi pada sayap-sayap gunungapi.


Fasies Vulkaniklastik Proksimal
a. Pemerian
     Sedimen vulkaniklastik proksimal disusun oleh breksi-didukung-matriks dan breksi-didukung-butiran yang berselingan dengan debu vulkanik. Breksi-breksi itu terpilah buruk. Variasi besar butir sangat ekstrim dan berkisar mulai dari bongkah (diameternya ada yang hingga sekitar 6 m) hingga kristal dan gelas yang berukuran lempung. Sebagian besar butiran membola dan kekasaran butiran rata-rata juga rendah (0,3). Individu-individu lapisan breksi memiliki ketebalan yang sangat bervariasi dan berkisar mulai dari 0,5 hingga 15 m. Breksi-breksi itu merupakan tipe batuan dominan pada fasies ini. Beberapa breksi, yang jarang ditemukan, memperlihatkan heterogenitas litologi. Semua lapisan breksi memiliki derajat kesinambungan lateral yang rendah.
     Lintap breksi pada fasies ini disisipi oleh debu jatuhan. Debu itu muncul sebagai lapisan-lapisan yang ketebalan umumnya kurang dari 1 m. Individu lapisan debu sering memperlihatkan gejala perlapisan bersusun, baik bersusun normal maupun terbalik. Lapisan debu jatuhan umumnya memiliki derajat kesinambungan lateral yang rendah.

b. Sedimentasi
     Breksi-breksi yang terutama disusun oleh fragmen-fragmen yang litologinya sama merupakan produk awan panas yang dapat mengalir hingga jarak 15 km dari kawah (Davies dkk, 1978). Awan panas itu bergerak menyusuri lembah dan ngarai yang ada pada sayap gunungapi dan terus mengalir. Individu-individu awan panas menghasilkan lapisan yang tebalnya berkisar mulai dari 1 hingga 3 meter. Superposisi sejumlah endapan awan panas terbentuk secara berurutan dari satu letusan tunggal menyebabkan terbentuknya lintap breksi dimana produk dari setiap individu awan letusan itu tidak dapat dibedakan satu terhadap yang lain. Jadi, sebuah lapisan breksi tunggal, seperti yang terlihat pada singkapan, mungkin merupakan produk dari beberapa awan panas yang berbeda.
     Breksi yang disusun oleh fragmen-fragmen yang litologinya beragam umumnya merupakan koluvium dan berasosiasi erat dengan dinding lembah. Debu jatuhan yang menjadi sisipan pada fasies ini diendapkan selama episode-episode dimana awan panas tidak aktif. Bagian dasar dari awan panas seringkali tidak bersifat erosif dan lapisan debu yang dilaluinya dapat terawetkan sewatku awan panas itu mengangkut dan mengendapkan breksi. Gejala perlapisan bersusun dalam suatu individu lapisan debu jatuhan umumnya terbentuk akibat fluktuasi intensitas letusan. Jika intensitas letusan meningkat secara lambat, maka akan terbentuk lapisan debu yang memperlihatkan gejala perlapisan bersusun terbalik. Penurunan intensitas letusan secara berangsur menyebabkan terbentuknya lapisan debu yang memperlihatkan gejala perlapisan bersusun normal. Satu letusan tunggal dapat menghasilkan banyak lapisan debu yang masing-masing memiliki besar butir dan karakter tekstur yang unik.

Fasies Vulkaniklastik Medial
a. Pemerian
     Fasies ini disusun oleh perselingan antara breksi-didukung-matriks dan breksi-didukung-butiran, konglomerat, serta pasir kasar dengan lapisan-lapisan tipis debu jatuhan. Sewaktu masih segar, banyak satuan rudit memperlihatkan gejala perlapisan sejajar, namun gejala perlapisan itu biasanya menjadi hilang ketika pelapukan dan diagenesis menjadi ekstrim (setelah tersingkap lebih dari 3-5 tahun). Individu-individu lapisan memiliki ketebalan 0,5-3 m. Baik breksi maupun konglomerat sama-sama terpilah buruk dan kisaran besar butirnya mulai dari bongkah hingga kristal dan gelas berukuran lempung. Ukuran partikel rata-rata dalam breksi adalah sekitar 10 mm, kebundarannya 0,3-0,4 dan sebagian besar memiliki litologi yang sama. Konglomerat seringkali berselingan dengan lapisan-lapisan pasir kasar atau pasir sangat kasar yang tipis serta terpilah sedang hingga terpilah baik. Debu jatuhan umumnya memiliki ketebalan kurang dari 0,5 cm, terpilah baik, dan berbutir sedang hingga kasar.

b. Sedimentasi
     Breksi dari fasies ini merupakan produk aliran rombakan (lahar). Aliran ini dibentuk pada bagian ujung endapan awan panas dan kemudian mengalir menuju bagian bawah lereng hingga jarak 10-20 km dari ujung endapan awan panas itu. Breksi aliran rombakan merupakan tipe sedimen dominan pada lingkungan kipas tengah dan kipas bawah dari kipas aluvial yang biasanya melingkari kerucut aktif. Aliran rombakan terbentuk akibat penjenuhan endapan awan panas yang lepas dan tidak terkonsolidasi oleh hujan tropis yang hebat. Aliran ini merupakan aliran non-turbulen yang memiliki yield strength tinggi serta mampu mengangkut bongkah yang sangat besar (diameternya hingga 6 m) sampai jarak 20 km dari gunungapi.
     Individu-individu lahar umumnya memiliki bagian dasar yang tidak bersifat erosif sedemikian rupa sehingga selimut debu seringkali terawetkan pada daerah kipas tengah dan kipas bawah. Lapisan debu jatuhan hampir selalu tererosi oleh konglomerat dan pasir kasar yang berselingan dengan breksi aliran rombakan.

Fasies Vulkaniklastik Distal
a. Pemerian
     Fasies vulkaniklastik distal dicirikan oleh litologi, struktur sedimen, dan tekstur yang beragam. Pada sistem yang beragradasi dengan cepat, pasir kasar dan konglomerat merupakan tipe litologi dominan. Kedua tipe endapan itu seringkali tidak berstruktur hingga berlapis datar. Bidang-bidang kerukan kadang-kadang ditemukan di bagian dasar kedua endapan tersebut. Pada sistem yang beragradasi lambat atau pada sistem lembah torehan, sering ditemukan pasir halus yang berlapisan silang-siur dan lintap menghalus ke atas. Di dekat pantai, ditemukan gejala perlapisan silang-siur sudut tinggi dalam pasir dari fasies ini. Jika kerikil hadir didalamnya, kebundarannya berkisar mulai dari 0,5 hingga 0,8. Individu-individu lapisan berkisar mulai dari terpilah baik hingga terpilah buruk dan umumnya memiliki derajat kesinambungan lateral yang rendah.

b. Sedimentasi
     Sedimentasi pada fasies distal didominasi oleh sistem fluvial yang mungkin berupa sungai menganyam atau sungai meander. Sebagian besar sedimentasi terjadi selama banjir, di bawah kondisi rezim aliran perlapisan datar atau rezim aliran antidune. Hubungan pemotongan antara endapan alur menganyam dan alur sinusoidal sering ditemukan. Pada wilayah pesisir, energi gelombang yang tinggi menyebabkan terbentuknya gisik daratan utama beserta beach ridge.
     Sungai memasuki laut melalui sejumlah laguna kecil yang menjebak pasir kasar dan gravel. Pasir gisik berkomposisi felspatik, terpilah baik, memperlihatkan gejala perlapisan silang-siur planar sudut rendah hingga sudut tinggi, halus hingga sedang, dan mengandung sejumlah horizon konglomerat.


0 komentar:

Posting Komentar