Merapi

Erupsi 2010

Interaksi dan Erupsi

Merapi takkan ingkar janji

Lukisan Alam

Keindahan dan Keseganan Piroklastik

Kekuwasaan

Ketegasan dan Kekuatan Piroklastik

Komplek Tengger

Keindahan dan Imajinasi

Minggu, 13 April 2014

FASIES VULKANIK (Vessell dan Davies. 1981)

Sedimen vulkanik memperlihatkan perubahan karakter secara cepat sejalan dengan bertambahnya jarak dari sumbu magmatik. Ada empat fasies yang dapat dikenali, batas-batas antar fasies yang berdampingan tidak jelas dan satu fasies berubah secara berangsur menjadi fasies yang lain. Pembedaan fasies didasarkan pada: (1) litologi; (2) besar butir; (3) struktur sedimen dan tekstur; (4) genesis.

Fasies Inti Gunungapi
a. Pemerian
     Inti gunungapi (volcanic core) dicirikan oleh perselingan lava, debu jatuhan, dan koluvium. Individu-individu lapisan memiliki ketebalan yang sangat bervariasi, mulai dari beberapa centimeter hingga beberapa meter. Komposisi lava dan debu berkisar mulai dari andesit hingga basal olivin, tergantung pada letusan dan gunungapi namun letusan-letusan historis menghasilkan basal olivin alumina tinggi sebagai awan panas, debu, dan lava (jarang).
     Debu jatuhan terpilah buruk hingga terpilah baik serta memiliki besar butir yang beragam, mulai dari bongkah hingga pasir halus. Koluvium muncul sebagai lapisan-lapisan breksi yang memiliki ketebalan yang beragam dengan kesinambungan lateral yang rendah. Pemilahan sangat buruk dan endapan ini seringkali mengandung bongkah menyudut yang ukurannya juga sangat beragam.

b. Sedimentasi
Sedimentasi lava umumnya terbatas dalam lembah-lembah yang ada pada sayap gunungapi. Debu vulkanik, di lain pihak, merupakan produk umum dari letusan dan dapat menutupi wilayah yang luas dan relatif jauh dari kawah. Korelasi antar individu lapisan debu pada fasies ini sangat sukar untuk dilakukan karena ketebalan dan besar butir pada setiap lapisan dapat berubah dengan cepat. Demikian pula, individu lapisan koluvium tidak dapat dikorelasikan dari satu singkapan yang terisolasi kepada singkapan lain yang juga terisolasi. Breksi koluvium berasosiasi erat dengan lereng curam dan terbentuk sebagai produk erosi pada sayap-sayap gunungapi.

FASIES VULKANIK (Bogie & Mackenzie, 1998 dalam Bronto, 2006)

Fasies sentral merupakan bukaan keluarnya magma dari dalam bumi ke permukaan. Oleh sebab itu daerah ini dicirikan oleh asosiasi batuan beku yang berupa kubah lava dan berbagai macam batuan terobosan semi gunung api (subvolcanic intrusions) seperti halnya volcanic necks, sill, retas, dan kubah bawah permukaan (cryptodomes). Batuan terobosan dangkal tersebut dapat ditemukan pada dinding kawah atau kaldera gunung api masa kini, atau pada gunung api purba yang sudah tererosi lanjut. Selain itu, karena daerah bukaan mulai dari conduit atau diatrema sampai dengan kawah merupakan lokasi terbentuknya fluida hidrotermal, maka hal itu mengakibatkan terbentuknya batuan ubahan atau bahkan mineralisasi. Apabila erosi di fasies sentral ini sangat lanjut, batuan tua yang mendasari batuan gunung api juga dapat tersingkap.
Fasies proksimal merupakan kawasan gunung api yang paling dekat dengan lokasi sumber atau fasies pusat. Asosiasi batuan pada kerucut gunung api komposit sangat didominasi oleh perselingan aliran lava dengan breksi piroklastika dan aglomerat. Kelompok batuan ini sangat resistan, sehingga biasanya membentuk timbulan tertinggi pada gunung api purba.

FASIES VULKANIK (Fisher & Schmincke 1984)

Fasies vulkanik adalah tipe endapan batuan produk gunungapi yang dimodelkan berdasarkan kesebandingan rekaman batuan purba dengan batuan sekarang. Dan didasari oleh tipe letusan, deposisi, dan proses erosional. Dalam fasies vulkanik pembagian litologi utama adalah lava, piroklastik (yang dibagi lagi menjadi jenis piroklastik), dan epiklastik. Menurut Fisher & Schmincke (1984) fasies vulkanik dibagi menjadi empat, yaitu fasies berdasarkan posisi relatif terhadap sumber, fasies berdasarkan lingkungan pengendapan, fasies berdasarkan komposisi primer, dan fasies berdasarkan diagenesis batuan.

- Fasies berdasarkan posisi relatif terhadap sumber.
   Berdasarkan posisi relatif terhadap sumber, fasies dapat dibagi menjadi tiga 
a.  Fasies dekat dengan sumber (near - source facies).

Fasies ini terdiri dari aliran lava dan piroklastik yang dihasilkan dari proses vukanisme atau dihasilkan dari proses erosi dan gravitasi yagn terbentuk pada gunungapi yang memiliki kemiringan yang curam. Pada daerah yang banyak mengalami erosi, biasanya akan tersingkap bagian bawah dari suatu gunungapi dan fasies yang ada berupa stock, sill, dan dike dan beberapa diantaranya masih dijumpai intrusi dan ekstrusi breksi dan tuff.
b.  Fasies Intermediet.
Fasies ini meliputi batuan yang mengelilingi pusat gunungapi yang masih berupa kerucut, berupa piroklastik aliran, aliran lava, piroklastik jatuhan, dan batuan yang telah terendapkan kembali (Reworked). Semakin jauh dari pusat, endapan yang ada merupakan endapaan piroklastik yang tersedimentasikan (Resedimented Pyroclastic) dan batuan epiklastik. Batuan yang termasuk dalam fasies ini dicirikan berdasarkan tekstur, topografi, struktur, dan lingkungan pengendapan yang mempengaruhi pengendapan material vulkanik (Fisher & Schmincke, 1984).
c.  Fasies jauh dari sumber (distant facies).
 Fasies ini merupakan endapan piroklastik jatuhan yang tersebar jauh dari sumber erupsi, namun biasanya masih dijumpai lava dan piroklastik aliran. Endapan yang terdapat pada zona transisi pada fasies ini biasanya telah mengalami erosi. Endapan ash yang terisolisasi kemungkinan dapat terbentuk sebagai satu atau lebih lapisan tipis yang diendapkan pada lingkungan laut, lakustrin atau darat yang araknya ratusan kilometer dari pusat vulkanik. Lapisan pada batuan yang termasuk dalam fasies ini biasanya memiliki tekstur lapisan yang tipis dengan sortasi yang bagus menunjukkan komposisi yang berbeda pada perselingan dengan sedimen non vulkanik. 

VULKANOSTRATIGRAFI

Vulkanostratigrafi merupakan ilmu yang mempelajari urutan dari rekaman kegiatan vulkanik dengan pemahaman satuan vulkanostratigrafi, yaitu satuan – satuan lapisan yang terpetakan terdiri dari batuan vulkanik yang terbentuk di darat (subaerial) atau di dalam air (subaqueous) oleh proses – proses vulkanik yang penentuannya berdasarkan sumber, jenis litologi dan genesanya (Sutikno Bronto, 1996).
Satuan morfostratigrafi merupakan penggolongan stratigrafi dengan penglompokan batuan menurut berbagai cara untuk mempermudah hubungan lapisan satu terhadap lapisan lain. Penggolongan stratigrafi berdasarkan kenampakan morfologinya, bentang alam dari endapan maupun batuan gunung api dari berbagai fase erupsi secara berturut – turut akan saling tindih menindih, sehingga mempunyai nilai stratigrafi.
Sebagai satuan dasar konsep satuan morfostratigrafi adalah Morfoset (morphocet : morfological dan facet). Morfoset adalah suatu bentang alam yang tersusun dari suatu endapan atau komplek endapan gunungapi hasil dari erupsi atu fase erupsi, yang mempunyai ciri-ciri bentang alam tertentu, yang dapat dibedakan dengan bentang alam yang tersusun dari suatu endapan atau komplek endapan gunungapi hasil erupsi atau fase erupsi sebelumnya, sesudahnya atau sistem gunungapi lainya.
Jika suatu morfoset tersusun dari suatu komplek batuan seperti lava, breksi atau tuff, dan apabila setiap bataun tersebut secara sendiri memiliki bentang alam tertentu yang bias dibedakan satu dengan lainnya, maka bentang alam dari setiap batuan tersebut dinamai Morfonit (morphonit : morfological unit). Jadi morfonit merupakan bagian dari morfoset, yaitu suatu bentang alam yang mencirikan suatu batuan tertentu dan biasanya dibedakan satu dengan yang lainya.

Gabungan dari beberapa morfoset yang membentuk bentang alam tertentu dinamakan Morfotem (morphotem : morphological sistem). Morfotem adalah suatu bentang alam yang dihasilkan oleh suatu rangkaian proses atau sistem gunungapi.

GUNUNG IBU

Gunung Ibu terletak pada koordinat 01o29’ LS dan 127o 38’ BT dan secara administratif termasuk dalam wilayah Kecamatan Ibu, Kabupaten Halmahera Barat, Provinsi Maluku Utara. Gunung ini mempunyai ketinggian sekitar 1.340 m dpl dan termasuk ke dalam jenis gunungapi Strato dan dapat dicapai melalui Kota Jailolo. Gunung ini belum mempunyai pos pemantau, sehingga diamati secara visual dari pos pengamatan Gunung Gamkonora yang terletak di Kampung Gamsungi, Kecamatan Ibu, Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara dengan koordinat 01o 24’ 45,36” LU dan 127o 21’ 72” BT.

GUNUNG KIE BESI

Gunung Kiebesi atau Wakiong ini terletak pada Pulau Makian. Provinsi Maluku dengan koordinat 0o 19’ LU dan 127o 24’ BT. Gunung ini mempunyai ketinggian sekitar 1.357 m dpl dan termasuk ke dalam jenis gunungapi Strato tipe A. Gunung ini dipantau melalui pos pengamatan yang di Kelurahan Tafaga, Kecamatan Moti, Kabupaten Maluku Utara, Provinsi Maluku Utara dengan koordinat 0o 26’ 07” LU dan 127o 24’ 53” BT pada ketinggian 50 m dpl yang dapat dicapai melalui Kota Ternate.

GUNUNG GAMALAMA

Gunung Gamalama yang oleh kalangan luar negeri juga dikenal dengan sebutan Piek van Ternate terletak pada Provinsi Maluku Utara dengan posisi 0o 48’ LU dan 127o 19’ 30” BT dan mempunyai satu buah kawah dengan nama Kawah Utama. Gunung yang mempunyai ketinggian sekitar 1.715 m dpl atau 1.690 m di atas Kota Ternate ini merupakan tipe gunungapi Strato tipe A. Gunung Gamalama ini dipantau melalui pos pengamatan yang terletak di Jl. Cengkeh Afo, Desa Marikrubu, Ternate, Maluku Utara dengan koordinat 0o 2 47’ 35,46” LU dan 127o 21’ 41” BT pada ketinggian 285 m dpl yang dapat dicapai melalui Kota Ternate.

GUNUNG GAMKONORA

Gunung Gamkonora juga dikenal dengan nama atau tulisan sebagai Gamkunora atau Gammacanore mempunyai ketinggian sekitar 1635 m dpl atau 1600 m dari Kota Ibu dan terletak pada posisi 01o 22’ 30” LU dan 127o 3’ 00” BT. Gunung yang secara administratif ini termasuk dalam wilayah Kabupaten Halmahera Barat, Provinsi Maluku Utara ini mempunyai 4 kawah, yaitu Kawah A, Kawah B, Kawah C dan Kawah D. Gunung Gamkonora merupakan gunungapi tipe strato dan dipantau melalui pos pengamatan yang terletak di Kampung Gamsungi, Kecamatan Ibu, Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara dengan koordinat 01o 24’ 45,36” LU dan 127o 21’ 72” BT.

GUNUNG DUKONO

Gunung Dukono mempunyai nama atau penulisan lain yaitu Doekono, Dukoko, Dodoekko, Dukoma, Tala atau Tolo. Gunung ini mempunyai 5 (lima) kawah yaitu Kawah Tanahlapang atau Kawah A, Kawah Dilekene atau Kawah B, Kawah Malupang Magiwe atau Kawah C, Kawah Telori atau Kawah D dan Kawah Heneowara. Gunung dengan ketinggian sekitar 1.087 m dpl ini terletak pada koordinat 01o 42’ LU dan 127o 52’ BT dan secara administratif termasuk dalam wilayah Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara. Gunung Dukono merupakan gunungapi tipe strato dan dipantau melalui pos pengamatan di Desa Mamuya, Kecamatan Galela, Kabupaten Halmahera Utara yang terletak pada koordinat 01o 47’ 40,32” LU dan 127o 53’ 42,420” BT, ketinggian 25 m dpl dan dapat dicapai melalui Kota Galela.

GUNUNG SUBMARINE 1922

Gunung Submarine 1922 memiliki lokasi geografi antara 40 dan 60 LU serta antara 1240 dan 1260 BT. Gunung ini berada di Kabupaten Sangir, Provinsi Sulawesi Utara, berdekatan dengan Kota Tahuna. Submarine 1922 merupakan Gunungapi di bawah laut.

GUNUNG AWU

Gunung Awu terletak di pada posisi 03 o 40’ LU dan 125 o 30’ BT dan secara administratif termasuk dalam wilayah Kabupaten Sangir Talaud, Pulau Sangir Besar, Provinsi Sulawesi Utara. Gunung ini mempunyai kawah yang bernama Tompaluan dengan ketinggian sekitar 1.320 m dpl. Gunung Awu merupakan gunungapi tipe strato dengan kubah lava dan dipantau melalui pos pengamatan yang terletak pada Jl. Radar Kp. 116, Kota Tahuna dengan koordinat 03 o 36’ 24,30” LU dan 125 o 47,70” BT.

GUNUNG BANUA WUHU

Gunung Banua Wuhu memiliki nama Lain Banua Buaya, memiliki lokasi geografis 03 o 08’ 16” LU dan 125 o 29’ 26” BT, berada sebelah barat daya P. Mangehetang, Kepulauan Sangihe, Prov. Sulawesi Utara. Gunung Banua Wuhu memiliki ketinggian 90 m pada tahun 1835 dan setinggi 12 m dml pada bulan November 1919 tetapi pada Mei 1935 di bawah laut. Tinggi di dasar laut > 4000 m. Kota Terdekat adalah Kota Tagulandang, tipe Gunung banua wuhu adalah Gunungapi di bawah laut.

GUNUNG KARANGETANG

Gunung Karangetang atau Gunungapi Siau mempunyai 5 (lima) kawah, yaitu Kawah I, Kawah II, Kawah III, Kawah IV dan Kawah V. Gunung ini merupakan salah satu contoh pulau gunungapi (volcanic island) dengan ketinggian sekitar 1.784 m dpl dengan koordinat 02o 47’ LU dan 125o 24’ BT yang secara administratif termasuk dalam wilayah Kabupaten Sitaro, Provinsi Sulawesi Utara. Gunung Karangetang merupakan gunungapi tipe strato lengkap dengan kubah lava (lava dome) dan dipantau melalui pos pengamatan yang terletak pada Bukit Maralawa, Desa Salili, Kecamatan Siau Barat, Kabupaten Sitaro, Provinsi Sulawesi Utara dengan koordinat 02o 44’ 46,56” LU dan 125o 23’ 01,26” BT. Pos ini dapat dicapai menggunakan angkutan laut melalui Kota Manado.

GUNUNG RUANG

Gunung Ruang yang juga memiliki nama lain yaitu Ruwang, Aditinggi, Duang atau Duwang, terletak di Kabupaten Sitaro, Provinsi Sulawesi Utara. Gunung ini mempunyai ketinggian sekitar 725 m dpl dengan koordinat 02o 18’ LU dan 125o 22’ BT. Gunung Ruang merupakan gunungapi tipe strato lengkap dengan kubah lava (lava dome) dan dipantau melalui pos pengamatan yang terletak pada koordinat 02o 19’ 18,30” LU dan 125o 24’ 30,42” BT yang dapat dicapai melalui Kota Tagulandang, dan secara administratif termasuk dalam wilayah Desa Tulusan, Kecamatan Tagulandang, Kota Sitaro, Sulawesi Utara.

GUNUNG TANGKOKO

Gunung Tangkoko atau Tankoko atau Batu Angus terletak di Desa Makewide, Kecamatan Bitung, Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara dengan ketinggian sekitar 1.149 m dpl dengan koordinat 01o 31’ LU dan 125o 11,5’ BT. Gunung ini merupakan gunungapi tipe strato dan dipantau melalui pos pengamatan yang terletak pada koordinat 01o 27’ 34,44” LU dan 125o 12’ 05,04” BT yang dapat dicapai melalui Kota Bitung dan secara administratif termasuk dalam wilayah Desa Winenet, Kecamatan Bitung Timur, Kota Bitung, Sulawesi Utara.

GUNUNG MAHAWU

Gunung Mahawu atau Gunung Roemengas yang terletak di Tomohon, Provinsi Sulawesi Utara memiliki tiga unit kawah yaitu kawah Mahawu, Wagio dan Mawuas. Gunung ini mempunyai ketinggian sekitar 1.331 m dpl dengan koordinat 01o 21,5’ LU dan 124o 51,5’ BT. Gunung Mahawu merupakan gunungapi tipe strato dan dipantau melalui pos pengamatan yang sama dengan pos pengamatan Gunung Lokon, terletak pada koordinat 01o 38,76” LU dan 124o 50’ 21,90” BT dengan ketinggian sekitar 826 m dpl yang dapat dicapai melalui Kota Tomohon, Tondano dan Manado, dan secara administratif termasuk dalam wilayah Desa Kakaskasen, Tomohon, Sulawesi Utara.

Kamis, 10 April 2014

GUNUNG LOKON

Gunung Lokon yang terletak di Tomohon, Provinsi Sulawesi Utara mempunyai dua puncak yaitu puncak Lokon dengan ketinggian sekitar 1.579 m dpl dengan koordinat 01o 21,5’ LU dan 124o 47,5’ BT; serta puncak Empung yang mempunyai ketinggian sekitar 1340 m dpl dengan koordinat 01o 22’ LU dan 124o 47,5’ BT. Gunung Lokon merupakan gunungapi tipe strato dan dipantau melalui pos pengamatan yang terletak pada koordinat 01o 38,76” LU dan 124o 50’ 21,90” BT dengan ketinggian sekitar 826 m dpl yang dapat dicapai melalui Kota Tomohon, Tondano dan Manado, dan secara administratif termasuk dalam wilayah Desa Kakaskasen, Tomohon, Sulawesi Utara.
Apabila Gunung Lokon meletus, tidak ditemukan penduduk terpapar pada wilayah KRB 3, baik akibat ancaman aliran awan panas, lava dan atau lahar maupun akibat batu pijar dan abu vulkanik. Terkait dengan aliran awan panas, lava dan atau lahar untuk wilayah KRB 2, potensi jumlah penduduk laki-laki terpapar adalah 3.347 jiwa dan penduduk perempuan sekitar 3.202 jiwa, sehingga total 6.549 jiwa. Sedang untuk wilayah terpapar KRB 1 potensi penduduk terpapar laki-laki berjumlah 5.569 jiwa dan perempuan 5.472 jiwa, dengan total 11.041 jiwa dari 32. Untuk ancaman batu pijar dan abu vulkanik apabila Gunung Lokon meletus, potensi penduduk terpapar terdapat pada wilayah KRB 1 dengan jumlah sekitar 41.893 jiwa.

GUNUNG SOPUTAN

Gunung Soputan terletak di Kecamatan Tombatu, Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara dan mempunyai ketinggian sekitar 1.783 m dpl. Gunung Ambang merupakan gunungapi tipe strato dengan tiga unit kawah yaitu Kawah Soputan, K1 dan K2. Gunung ini terletak pada koordinat 01o 06’ 30” LS dan 124o 43’ BT. Gunung ini dipantau melalui pos pengamatan yang terletak pada koordinat 01o 12’ 13,20” LU dan 124o 40’ 13,86” BT yang dapat dicapai melalui Kota Amurang, dan secara administratif termasuk dalam wilayah Desa Maliku, Kecamatan Tombasian, Kabupaten Minahasa Selatan, Sulawesi Utara.

GUNUNG AMBANG

Gunung Ambang terletak di Kabupaten Bolaang Mongondow, Provinsi Sulawesi Utara dan mempunyai ketinggian sekitar 1.795 m dpl. Gunung Ambang merupakan gunungapi tipe strato dengan kawah yang disebut kawah Muayat atau Moyayat dan terletak pada koordinat 0 o 44’ 30” LS dan 124 o 24’ 30” BT. Gunung ini dipantau melalui pos pengamatan yang terletak pada koordinat 00 o 42’ 43,32” LS dan 124 o 23’ 50,22” BT yang dapat dicapai melalui Kota Mobagu, dan secara administratif termasuk dalam wilayah Desa Purworejo, Kecamatan Modayag, Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara.

GUNUNG COLO (UNA - UNA)

Gunung Colo terletak di Pulau Una-Una, Provinsi Sulawesi Tengah dan mempunyai ketinggian sekitar 486 m. Gunung Colo yang juga kadang disebut Bukit Sakora merupakan gunungapi tipe strato. Gunungapi Colo berada pada koordinat 0o 10’ LS dan 121o 36,5’ BT. Gunung ini dipantau melalui pos pengamatan yang terletak pada koordinat 00o 24’ 42,06” LS dan 121o 51’ 36,84” BT dengan ketinggian sekitar 2 m dpl dan secara administratif termasuk dalam wilayah Desa Wakai, Kecamatan Una-Una, Kabupaten Tojo, Provinsi Sulawesi Tengah.

GUNUNG BANDA API

Gunung Banda Api disebut juga Etna Van Indonesia (Dr. R.D. M. Verbeek, 1900) merupakan gunungapi bertipe Strato, secara geografis terletak pada posisi 4o31’ LS dan 129 o52’ 17” BT dan secara administratif termasuk dalam wilayah Kecamatan Pulau Banda, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku. Puncak gunung berada pada ketinggian 641 m dpl dan 1.150 dari dasar laut dengan kota terdekat adalah Ambon Kabupaten Maluku Tengah dan pos pengamatan gunung berada di Desa Dwi Warna, Kecamatan Band Neira, Kabupaten Maluku Tengah pada posisi geografi 04o31’45,78” LU dan 129o54’ 08,54” BT, ketinggian ± 8 m dpl.

GUNUNG LEGATALA

Gunung Legatala biasa juga disebut Serua atau Sorek merupakan gunungapi bertipe Strato dengan doma lava menuju ke arah timur, secara geografis terletak pada posisi 6o18’ LS dan 130o00’ BT dan secara administratif termasuk dalam wilayah Pulau Serua di lautan Banda Kabupaten Seram, Maluku. Puncak gunung berada pada ketinggian 641 m dpl dan 3.000 m di atas dasar laut dengan kota terdekat adalah Banda Neira, Pulau Seram.

GUNUNG LAWARKAWRA

Gunung Lawarkawra atau disebut juga Kokon atau Lina merupakan gunungapi bertipe Strato dalam kaldera, secara geografis terletak pada posisi 6o44’ LS dan 129o30’ BT dan secara administratif termasuk dalam wilayah Kecamatan Tutmoru, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku (P. Nila). Puncak gunung berada pada ketinggian 781 m dpl dengan kota terdekat adalak Kota Ambon, Banda Neira.

GUNUNG SARAWARNA

Gunung Sarawerna memiliki banyak nama lain antara lain : Teun, Teuun, dan Tean merupakan gunungapi bertipe Strato, secara geografis terletak pada posisi 6o55’ LS dan 129o07’ BT dan secara administratif termasuk dalam wilayah Kab. Maluku Tengah, Provinsi Maluku. Puncak gunung berada pada ketinggian 655 m dpl dengan kota terdekat adalah Kampung Mesa atau Fafla.

GUNUNG WURLALI

Gunung Wurlali atau disebut juga Wuarlili memiliki kawah bernama Natarweru, secara geografis terletak pada posisi 7o7’30” LS dan 128o40’30” BT dan secara administratif termasuk dalam wilayah Kecamatan Kisar, Kabupaten Maluku Tenggara, Provinsi Maluku. Puncak gunung Wurlali berada pada ketinggian 868 m dpl dan 5.000 m dari dasar laut dengan kota terdekat adalah Batu Merah yang terletak di Barat Pulau Damar pada ketinggian ± 5 m dpl. Pos pengamatan gunung ada di Desa Wulur Kecamatan Pulau Damar, Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Provinsi Maluku pada posisi geografi 07o09’42,00” LS dan 128o40’13,04” BT ketinggian 212 dpl.

GUNUNG WETAR

Gunung Wetar merupakan gunungapi bertipe Kerucut Strato, secara geografis terletak pada posisi 6o 38’ LS dan 126o 39,5’ BT dan secara administratif merupakan gunungapi di Utara Pulau Wetar Laut Banda. Puncak Gunung Wetar berada pada ketinggian 282 m dpl dan 5.000 m dari dasar laut.

GUNUNG NIEWERKERK

Gunung Niewerkerk merupakan gunungapi bertipe gunungapi kembar bawah laut, secara geografis terletak pada posisi 6o 36’ LS dan 124o 40,5’ BT dan 6o 39’ LS dan 124o 43’ BT dan secara administratif termasuk dalam wilayah Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku. Puncak-puncak gunung Niewerkerk berada pada kedalaman 2.285 m dan 2.325 m dengan ketinggian 1.900 m dan 1.800 m dari dasar laut. Kota terdekat dari gunung Niewerkerk adalah Banda Neira.

GUNUNG HOBAL

Gunung Hobal merupakan gunungapi bawah laut, secara geografis terletak pada posisi 08022’26” LS dan 123035’26” BT dan secara administratif termasuk dalam wilayah Kecamatan Atedai Kabupaten Flores bagian timur Nusa Tenggara Timur (Pulau Lembata). Sampai saat ini ketinggian Gunung Hobal belum diketahui dan sejarah letusannya juga belum pernah tercatat.

GUNUNG ILI WERUNG

Gunung Ili Werung merupakan gunung api bertipe Strato, secara geografis terletak pada posisi 08032’24” LS dan 123035’24” BT dan secara administratif berada di wilayah Kecamatan Aradei, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Puncak gunung berada pada ketinggian 1.486 dpl dengan pos pengamatan berada di Desa Nubahaeraka, Kecamatan Aradei, Kabupaten Lembata Nusa Tenggara Timur pada posisi geografis 08029’48” LS dan 123031’54” BT pada ketinggian 670 m dpl.

GUNUNG ILI LEWOTOLO

Gunung Ili Lewotolo memiliki banyak nama lain yaitu : Levotoli, Lebetolo, Lebetola, Tokojain, Warirang, Welirang, Ili Api merupakan gunung api bertipe Strato. Secara geografis terletak pada posisi 08016’15” LS dan 123030’18” BT dan secara administratif berada di wilayah kecamatan Ili Ape Kabupaten Lembata. Puncak gunung berada pada ketinggian 1.319 m dpl dengan kota terdekat adalah Larantuka dan pos gunung api ada di Desa Laranwutun, Kecamatan Ili Ape, Kabupaten Lembata pada posisi geografis 08019’07” LS dan 123028’27”, ketinggian 32 m dpl.

GUNUNG BATUTARA

Gunung Barutara biasa disebut juga dengan nama lain Pulu Komba atau Pulu Kambing II atau Pulu Betah memiliki kawah yang terletak di pulau berbentuk bulan sabit dengan ukuran 700 x 900 m dan 350 x 200 m di bagian atasnya. Gunung Batutara bertipe Strato secara geografis terletak pada posisi 7047’30” LS dan 123034’45” BT dan secara administratif masuk di wilayah Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Puncak gunung berada pada ketinggian sekitar 470 m dpl dengan kota terdekat adalah Patar – Lembata, sedangkan pos pengamatan gunung berada di pos pengamatan Gunung Lewotolo di Pulau Lembata.

GUNUNG ILI BOLENG

Gunung Ili Boleng biasa juga disebut Bolin atau Wakka atau Lamatelang merupakan gunung api bertipe Strato dengan kawah 5 kawah utama (K1 s/d K5) serta memilki 2 kawah lain bernama Ili Balile, dan Kawah Riawale. Secara geografis terletak pada posisi 8o 20’ 30” LS dan 123o 15’ 30” BT dan secara administratif masuk dalam wilayah Adonara Timur dan Adonara Barat, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. Puncak gunung berada pada ketinggian 1.659 m dpl atau 1.639 di atas Kota Wai Werang, sedangkan pos pengamatan ada di Desa Arubala, Kecamatan Ili Boleng, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur.

Penduduk yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan pada KRB 3 berjumlah 3.766 orang yang terdiri dari 1.684 orang laki-laki dan 2.082 orang perempuan. Pada KRB 2, penduduk yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan berjumlah 5.776 orang yang terdiri dari 2.633 orang laki-laki dan 3.143 orang perempuan. Sedangkan pada KRB 1, penduduk yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan berjumlah 991 orang yang terdiri dari 441 orang laki-laki dan 550 orang perempuan. Jumlah penduduk yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan di seluruh KRB adalah 10.533 orang yang tersebar di 63 desa, terdiri dari 4.758 orang laki-laki dan 5.775 orang perempuan.
Bangunan yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan pada KRB 3 meliputi 954 bangunan rumah, 10 fasilitas pendidikan dan 3 fasilitas kesehatan. Pada KRB 2, bangunan yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan meliputi 1.420 bangunan rumah, 12 fasilitas pendidikan dan 5 fasilitas kesehatan. Sedangkan pada KRB 1, bangunan yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan meliputi 242 bangunan rumah, 4 fasilitas pendidikan dan 2 fasilitas kesehatan.
Lingkungan yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan pada KRB 3 meliputi areal seluas 1.708 ha yang terdiri dari 70 ha hutan, 39 ha pemukiman dan bangunan, 520 ha perkebunan, 278 ha sawah dan tegalan, 209 ha semak belukar, dan 592 ha tegalan. Pada KRB 2, lingkungan yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan meliputi areal seluas 2.036 ha yang terdiri dari 73 ha hutan, 109 ha pemukiman dan bangunan, 716 ha perkebunan, 327 ha sawah dan ladang, 26 ha semak belukar, dan 785 ha tegalan. Sedangkan pada KRB 1, lingkungan yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan meliputi areal seluas 419 ha yang terdiri dari 8 ha pemukiman dan bangunan, 83 ha perkebunan, 187 ha sawah dan ladang, 9 ha semak belukar, dan 132 ha tegalan.
Sementara itu lingkungan yang berpotensi terpapar akibat ancaman lontaran batu pijar dan hujan abu vulkanik pada KRB 3 meliputi areal seluas 2.660 ha, yang terdiri dari 144 ha hutan, 12 ha pemukiman dan bangunan, 531 ha perkebunan, 235 ha sawah dan ladang, 322 ha semak belukar, dan 1.416 ha tegalan. Pada KRB 2, lingkungan yang berpotensi terpapar akibat ancaman lontaran batu pijar dan hujan abu vulkanik meliputi areal seluas 4.857 ha yang terdiri dari 267 ha pemukiman dan bangunan, 2.006 ha perkebunan, 697 ha sawah dan ladang, 30 ha semak belukar, dan 1.857 ha tegalan. Sedangkan pada KRB 1, lingkungan yang berpotensi terpapar akibat ancaman lontaran batu pijar dan hujan abu vulkanik meliputi areal seluas 8.049 ha yang terdiri dari 191 ha pemukiman dan bangunan, 2.141 ha perkebunan, 2.851 ha sawah dan ladang, 325 ha semak belukar, 5 ha tanah kosong, dan 2.536 ha tegalan.

GUNUNG LEREBOLENG

Gunung Lereboleng memiliki banyak nama lain antara lain Lewono atau Leweno atau Lewero atau Leweroh atau Ili Burak merupakan gunung bertipe Strato, secara geografis terletak pada posisi 8o 21’ 25” LS dan 122o 50’ 50” BT dan secara administratif berada di wilayah Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Puncak gunung berada pada ketinggian 1.117 m dpl dengan kota terdekat adalah Kota Larantuka dan pos pengamatan gunung berada di Desa Lewoingu Leraboleng, Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (08o 23’ 42” LS, 122o 49’ 57,70” BT, ketinggian 382 m dpl.