Senin, 14 Oktober 2013

Sekilas Tentang Muria



 Gunung Muria adalah sebuah gunung di wilayah utara Jawa Tengah bagian timur dengan tinggi puncak mencapai 1.602 m dpl, yang termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Kudus di sisi selatan, di sisi barat laut berbatasan dengan Kabupaten Jepara, dan di sisi timur berbatasan dengan Kabupaten Pati. Di kawasan ini terdapat tempat yang sangat legendaris peninggalan Wali Songo, yaitu pesanggrahan di kawasan puncak Gunung Muria yang dalam sejarah negeri ini merupakan basis pesanggrahan di mana Kanjeng Sunan Muria menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Di sini pulalah Sunan Muria dimakamkan. Nama Gunung Muria dan daerah Kudus dinamakan berdasarkan nama Bukit Moria dan kota Al-Qudus/Baitul Maqdis/Yerusalem. Demikian pula nama Masjid Al Aqsa Menara Kudus berdasarkan nama Masjid di Yerusalem.


Tektonik Muria
Menurut perkiraan beberapa ahli, Gunung Muria dulunya merupakan sebuah pulau vulkanik yang terpisah dari daratan Pulau Jawa. Dalam kurun 500 – 1000 tahun terakhir, pulau Muria ini kemudian menyatu dengan Pulau Jawa akibat sedimentasi dan subduksi lempeng. Dugaan ini diperkuat catatan HJ De Graaf dan Th G Pigeaud (Kerajaan-kerajaan Islam di Jawa: Peralihan dari Majapahit ke Mataram; Grafiti Pers, 1985) yang mengisahkan jalur perdagangan pada masa lalu yang dilakukan dari Semarang – Demak langsung menuju Rembang dengan melalui selat sempit diantara Jawa Tengah dan pulau Muria.

Status Muria
Seperti sejarahnya, status gunung Muria pun masih sering diperdebatkan para ahli. Meskipun tidak tergolong sebagai gunung api aktif, namun banyak ahli yang tidak berani menyebutnya gunung api mati (extict). Karenanya banyak ahli memilih menganggapnya sebagai gunung api ‘tidur’ (dormant). Prihadi et al (2005), Geologi ITB dan kawan-kawannya dari BATAN dalam “Volcanic Hazard Analysis for Proposed Nuclear Power Plant Siting in Central Java, Indonesia” menyimpulkan bahwa Gunung Muria sebagai non-capable volcano for magmatic eruption in the near future. “Dalam waktu dekat tidak akan meletus”. Diperkirakan, terakhir kali gunung Muria meletus antara tahun 300 Masehi – 160 Sebelum Maseh

Sedimentasi Selat Muria
Sekitar abad ke VIII daerah Muria masih terpisah dengan Pulau Jawa. Di daerah tersebut ada sebuah gunung yang dinamakan Gunung Muria. Daratan pulau Muria dengan daratan Pulau Jawa dipisahkan oleh selat Muria.
Daerah Pati terletak di bagian wilayah di bagian tenggara Gunung Muria.  Beberapa abad kemudian selat Muria lambat laun menjadi daratan karena adanya pendangkalan oleh endapan lumpur  serta penyempitan  pantai sehingga Pulau Muria menjadi satu daratan dengan Pulau Jawa. Akibat penyempitan maka selat Muria berubah menjadi Bengawan Silugangga atau Sungai Juwana karena bermuara di daerah Juwana.


Wilayah Pati utara dan Pati  selatan dipisahkan oleh Sungai Juwana. Wilayah Pati utara usianya lebih tua jika dibandingkan dengan wilayah Pati seiatan.


Sejarah Kerajaan
Di wilayah utara jauh dari Sungai Juwana pernah berdiri Kerajaan Kalingga yang dipimpin oleh Ratu Shima. Setelah Kerajaan Kalingga berakhir, kerajaan yang berikutnya berkuasa adalah Kerajaan Mataram Hindu yang dipimpin raja-raja oleh keturunan dari Syailendra dan Sanjaya, yang pusat pemerintahannya berada di daerah pedalaman Jawa Tengah. Ketika Kerajaan Mataram Hindu pindah ke daerah Jawa Timur, pada abad XII di daerah tenggara Gunung Muria terdapat  pusat dua  pemerintahan setingkat kadipaten. Kedua daerah tersebut adalah Kadipaten Carangsoka dan Kadipaten Paranggaruda.
Kadipaten Carangsoka, wilayahnya berada di daerah utara Sungai Juwana. Penguasa Kadipaten Carangsoka bergelar Adipati Puspahandungjaya, mempunyai putri tunggal bernama Dewi Rayunguwulan. Wilayah kekuasaan Kadipaten Carangsoka meliputi daerah sekarang mrerupakan kecamatan : Trangkil, Juwana, Pati, Margorejo, Tlogowungu, Wedarijaksa, Gembong,  Margoyoso, Tayu. Dukuhseti, Gunungwungkal, Cluwak, dan sebagian meliputi wilayah Jepara bagian timur.  Bekas pusat pemerintahan  Carangsoka  berada di  Desa Sukoharjo Kecamatan Wedarijaksa.
Kadipaten Paranggaruda wilayahnya berada di daerah selatan Sungai Juwana. Penguasa Kadipaten Paranggaruda bergelar Adipati Yudapati, mempunyai putra tunggal bemama Raden  Josari. Wilayah kekuasaan Kadipaten Paranggaruda meliputi daerah sekarang merupakan kecamatan : Batangan, Jaken, Jakenan, Pucakwangi, Winong, Sukolilo, Kayen, Tambakromo, Gabus, dan sebagian wilayah Rembang bagian barat. Bekas pusat pemerintahan Paranggaruda berada  di Desa  Goda Kecamatan Winong.

 



0 komentar:

Posting Komentar